41 Santri Nurul Ihsan Terserang Penyakit Aneh

Desember 1, 2008

TASIKMALAYA – Sebanyak 41 santri Ponpes Nurul Ihsan di Kampung Cicangkudu, Desa Mangunreja, Kec Mangunreja, Kab Tasikmalaya, terjangkit penyakit aneh dengan gejala kejang-kejang hingga pingsan.

Para santri itu kini dirawat di Puskesmas Tinewati untuk mendapatkan perawatan intensif. Berdasarkan informasi yang dihimpun, hingga kini sudah terdapat 12 orang yang dirawat di Puskesmas Tinewati dan 10 orang di antaranya dirawat intensif. Namun hanya dua santri saja yang kondisinya kritis yakni Rani (12) dan Homsah (14).

Tim medis hingga kini belum bisa mengetahui secara pasti jenis penyakit yang menyerang para santri tersebut. Namun, diduga para pelajar ini terserang penyakit tifus.

Awalnya penyakit ini hanya menyerang delapan orang santri. Mereka merasa mual, badan panas dingin, dan pusing. Puncaknya mereka mengalami kejang kejang dan akhirnya pingsan.

“Para santri yang sakit kami kumpulkan di satu ruangan untuk memudahkan perawatan. Kemudian kami mengundang tim medis Puskesmas Tinewati untuk memberikan perawatan. Namun mereka yang sakit parah terpaksa dibawa ke puskesmas,” papar Pengurus Pesantren Nurul Uhsan Isak Farid di Tasikmalaya, Selasa (21/10/2008).

Beberapa santri lain ada yang di rawat di rumahnya masing-masing. “Kami baru bisa tenang setelah tim dokter datang,” kata Isak.

Dr Ade Taopik Ahmad mengatakan, belum bisa menyimpulkan secara pasti jenis penyakit yang menyerang para santri tersebut.

“Kami harus melalui uji labolatorium untuk dan menguji sampel air di wilayah tersebut. Sehingga belum bisa memastikan jenis penyakitnya, meski dari gejala awal diduga mereka menderita penyakit tifus,” jelas dia.


Ratusan Anak di Subang Terserang Cacar

Desember 1, 2008

SUBANG – Ratusan anak sekolah dasar (SD) di Desa Kaliangsana, Kecamatan Kalijati, Kabupaten Subang, Jabar, terserang wabah penyakit cacar air. Kondisi ini terjadi sejak sebulan lalu.

Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, wabah penyakit cacar terjadi sebulan lalu atau pada bulan Ramadan. Awalnya, cacar menyerang orang dewasa, namun beberapa pekan terakhir wabah ini menyerang anak-anak usia di bawah lima tahun hingga murid sekolah dasar.

Belum ada kepastian jumlah nyata penderita penyakit tersebut. Namun menurut Dedi Suhedi (40), warga setempat, menyatakan penyakit cacar telah menimpa warga desa di tujuh rukun tetangga (RT) dengan siklus per dua pekan sekali. Sehingga diperkirakan di setiap RT, jumlah warga yang menderita cacar sedikitnya 20 orang.

“Jumlah pastinya susah. Karena satu orang sembuh tapi ada lagi yang sakit, hampir dua minggu sekali lah. Mungkin satu desa bisa sampai 170 orang,” ujar Dedi.

Hingga saat ini, para penderita belum mendapatkan pengobatan medis secara intensif. Para orangtua mengaku, sejak anaknya menderita cacar air, pengobatan hanya sebatas di bidan.
(Annas Nasrullah/Sindo/enp)


2 Warga Meninggal, Bali Waspada Anjing Rabies

Desember 1, 2008

DENPASAR – Pemerintah Provinsi Bali menyatakan daerahnya dalam status KLB (kejadian luar biasa) rabies. Penetapan itu menyusul ditemukannya dua orang warga yang meninggal setelah digigit anjing pengidap rabies.

Wabah penyakit anjing gila itu pun mendapat perhatian langsung Departemen Kesehatan pusat. “Kami sudah ambil langkah seperti dengan memusnahkan anjing liar maupun vaksinasi massal,” kata Plt Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Depkes Tjandra Yoga Aditama di Kantor Dinas Kesehatan Bali Jl Melati Denpasar, Senin (1/12/2008).

Kepala Dinas Kesehatan Bali Dewa Ketut Oka menjelaskan, hingga saat ini sudah ada 80 warga yang pernah digigit anjing dalam setahun setahun terakhir mendapat vaksinasi. Mereka utamanya adalah warga Desa Ungasan dan Kedonganan, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung. Dua desa tersebut merupakan wilayah terparah akibat serangan rabies.

Di dua wilayah itu pula, dua orang warga yang meninggal beberapa waktu lalu dipastikan teserang rabies. Kedua korban adalah Ketut Wirata (28), dan Kadek Yudha, bocah delapan tahun. Dari hasil pengujian Balai Besar Penelitian Veteriner di Bogor, Jabar, korban dinyatakan positf terjangkit virus rabies.

Sedangkan tiga warga lagi yang belum lama ini juga meninggal akibat digigit anjing untuk sementara dinyatakan negatif rabies. Anjing rabies juga menyerang sedikitnya sembilan warga lainnya di dua desa itu.

Akibat serangan anjing di beberapa tempat itu, pemerintah bersama warga dalam sepekan terakhir telah memusnahkan sedikitnya 75 ekor. Sebagian besar adalah anjing liar dan sisanaya anjing milik warga yang secara sukarela diserahkan untuk dimusnahkan karena diduga terjangkit rabies. Begitu mati, anjing-anjing itu dikumpulkan dan selanjutnya dikubur.


Komnas HAM: Lapindo Membebani Rakyat Indonesia

Maret 1, 2008

JAKARTA – Pencairan dana Rp700 miliar untuk tiga desa korban lumpur Lapindo, dianggap membebani rakyat Indonesia. Alasannya, ganti rugi yang seharusnya dilakukan oleh PT Lapindo Brantas itu menjadi beban negara karena menggunakan APBN.

“PT Lapindo telah membebankan rakyat Aceh sampai Papua,” ujar anggota Komnas HAM Syafruddin Ngulma Simeulue, dalam perbincangannya dengan okezone, di Jakarta, Sabtu (1/3/2008).

Syafruddin yang juga sebagai anggota tim Kasus Lapindo menegaskan, ganti rugi yang dilakukan pemerintah tersebut seharusnya merupakan pinjaman kepada PT Lapindo. Maka itu, perusahaan milik Menko Kesra Aburizal Bakrie itu harus menggantinya.

Namun, untuk hal tersebut pemerintah harus segera mengganti Perpres 14 tahun 2007 tentang Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS). “Artinya, boleh ditalangi tapi harus diganti. Untuk itu, pemerintah harus mencabut Keppres 14 Tahun 2007,” kata Syafruddin.

Dalam kasus yang merugikan warga desa Sidoarjo ini, Syafruddin menganggap, pemerintah telah diintervensi oleh kekuatan koorporasi. Sehingga, pemerintah tidak bisa mengeluarkan kebijakan yang berpihak kepada warga Sidoarjo. “Pemerintah telah diintervensi oleh kekuatan koorporasi. Ini sangat berbahaya,” pungkas anggota Komnas HAM yang punya rekam jejak panjang di bidang lingkungan hidup ini


Jepang Sumbang 500.000 Yen untuk TN Gede-Pangrango

Februari 1, 2008

Cibodas, Jawa Barat – Masyarakat Jepang menyumbang dana senilai 500.000 yen yang dikumpulkan dari pengunjung Gunma Safari Park untuk gerakan penghijauan di Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango (TNGP), Jawa Barat.

Pemberian sumbangan tersebut secara simbolis ditandai dengan penyerahan pohon dari Presiden Direktur (Presdir) Gunma Safari Park, Kunihiko Takahasi, kepada Kepala TNGP, Bambang Sukmananto, di jalur pendakian Resor Gunung Putri, Cibodas, Senin.

Lokasi penyerahan pohon tersebut berada di lereng Gunung Gede, yang berketinggian 1.000 hingga 3.000 meter di atas permukaan laut (dpl).

Warga Kota Gunma dan pimpinan Gunma Safari Park ikut menanam langsung berbagai pohon bersama-sama Direktur Taman Safari Indonesia (TSI), Frans Manangsang, dan puluhan anggota Pramuka dari Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al-Ikhlas, Desa Sukatani, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur dengan panduan staf di TNGP.

Kerjasama untuk penghijauan di TNGP itu dilakukan sejak tahun 2004 dengan melibatkan tiga pihak yakni Gunma Safari Park, Jepang, Taman Safari Indonesia (TSI) Cisarua-Bogor dan TNGP Departemen Kehutanan (Dephut).

Usai penanaman pohon, Kunihiko Takahasi menjelaskan, pihaknya mendengar bahwa tingkat kerusakan hutan di Indonesia cukup serius, setelah hutan Amazon di kawasan Amerika Selatan.

“Maka, kami berinisiatif untuk mengadakan kegiatan penanaman,” katanya.

Ia menambahkan bahwa pada awalnya kegiatan penghijauan itu demi kepentingan satwa liar, karena bila hutan rusak maka keberadaan satwa liar endemik juga terganggu dan bisa terancam punah.

Kajian terbaru dari Dana Suaka Margasatwa (World Wildlife Fund for Nature/WWF) yang diluncurkan di Nusa Dua, Bali, dalam Konferensi Perubahan Iklim (UNFCCC) pada Desember 2007 menunjukkan bahwa kerusakan hutan Amazon, di kawasan Amerika Selatan, akan kian cepat akibat siklus perubahan iklim dan penggundulan hutan.

WWF memprakirakan, pada tahun 2030 sekitar 60 persen luas Amazon akan rusak dan memperburuk kondisi hidup penduduk yang tinggal di kawasan Amerika Selatan.

“Peran penting Amazon terhadap iklim global tidak bisa lagi kita pandang sepele,” kata Dan Nepstad, seorang peneliti senior yang memimpin penyusunan kajian bertajuk “The Amazon`s Vicious Cycles Drought and Fire in the Greenhouse”.

Laju penggundulan hutan di Amazon hingga tahun 2030, menurut kajian WWF, berpotensi melepaskan karbon hingga 55,5-96,9 juta ton karbondioksida (CO2). Angka ini sama dengan emisi gas rumah kaca global selama dua tahun.

Mengenai hasil penghijauan di TNGP yang sudah dilakukan lima kali sejak tahun 2004, Kunihiko Takahasi mengakui bahwa berdasarkan pengecekan langsung, hasilnya cukup bagus.

“Kami tidak sedikitpun merasa ada ketidakpuasan karena kegiatan di Taman Nasional ini (TNGP) semakin banyak melibatkan masyarakat, dan itu sesuai dengan apa yang kami harapkan,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa kegiatan serupa juga pernah diadakan di Taman Nasional Way Kambas, Taman Nasional Bali Barat dan juga untuk rehabilitasi orangutan.

“Tapi, khusus di Taman Nasional Gede Pangrango, kami bermaksud menyelenggarakan tiap tahun,” katanya menambahkan. (*)


Petani Sukabumi Keluhkan Cuaca yang Tak Menentu

Februari 1, 2008

Para petani di wilayah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mengeluhkan kondisi cuaca yang tidak menentu beberapa minggu terakhir karena dapat mempengaruhi hasil panen mereka.

“Perubahan iklim yang tidak menentu saat ini akan berdampak terhadap turunnya produktivitas para petani, sehingga hasil panennya juga mengalami penurunan,” kata Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Sukabumi, Maman Suparman, di Sukabumi, Kamis.

Kerusakan hutan di sekitar lokasi areal pertanian, jelasnya, menjadi faktor penyebab cuaca yang tak menentu tersebut.

“Saya minta kepada pemerintah agar pengrusakan hutan dapat dihilangkan, sehingga sistem pengairan bagi para petani tidak terganggu,” ujarnya.

Ia menyebutkan, secara umum perubahan cuaca karena efek pemanasan global, seperti yang terjadi saat ini dalam satu pekan bisa terjadi musim kemarau dan musim hujan secara bergantian.

“Jika kondisi tersebut terus terjadi, maka akan mengancam berkurangnya jumlah produksi padi. Dampak yang paling parah adalah terjadinya rawan pangan,” tuturnya.

Terkait menghilangnya pupuk di pasaran, Maman menjelaskan kini pendistribusian pupuk mulai masuk ke Sukabumi.

“Pupuk urea yang sempat hilang, saat ini sedikit demi sedikit mulai ada di pasaran,” katanya sambil berharap agar pasokan pupuk segera normal untuk memenuhi permintaan para petani yang serentak.


Kado Ulang Tahun Itu Berupa 20 Tahun Penjara

Februari 1, 2008

Jakarta – Bukannya kado istimewa, kue dan ciuman mesra dari keluarga dekat yang diterima Pollycarpus Budihari Priyanto pada ulang tahunnya yang ke-46 tahun ini melainkan berita bahwa ia divonis 20 tahun penjara.

Mestinya, pada hari ulang tahun yang jatuh 26 Januari 2008, mantan pilot di PT Garuda ini kedatangan orang-orang yang dicintai. Tapi yang datang justru tim eksekusi Kejaksaan Agung.

Detik-detik menjelang hari ulang tahunnya justru menjadi mimpi buruk bagi pria yang lahir di Solo, 26 Januari 1961 ini.

Sekitar pukul 22.00 WIB, 25 Januari 2008, tim eksekusi datang ke rumahnya di Kompleks Pamulang Permai Blok B Nomor 1, Tangerang, Banten.

Upaya Pollycarpus untuk didampingi penasehat hukum dalam peristiwa itu juga gagal sebab proses eksekusi berlangsung sangat cepat dan hanya beberapa jam setelah majelis hakim Mahkamah Agung mengambil keputusan untuk memenjarakannya selama 20 tahun.

Bahkan, salah satu pengacara yang direncanakan akan mendampingi eksekusi Pollcarpus malah masih berada di Surabaya.

Pengacara ini tidak bisa datang karena eksekusi yang berlangsung cepat bahkan keputusan vonis baru diumumkan ke publik sore harinya sekitar pukul 15.30 WIB.

Tanpa banyak kesulitan, Pollycarpus pun dibawa tim eksekusi dengan mobil B 2107 BQ ke LP Cipinang dengan kawalan empat mobil berisi para petugas sekitar pukul 22.30 WIB.

Isteri Pollycarpus, Yosepha Hera Iswandari (42) ikut mengantar suaminya untuk hidup di balik jeruji dengan naik mobil B 1353 MO. Satu mobil patroli polisi menjadi pemandu jalan bagi iring-iringan itu.

Tiba di LP Cipinang, Jakarta Timur sekitar pukul 23.35 WIB, mobil yang membawa Pollycarpus melesat masuk ke halaman sedangkan mobil yang mengiringinya masuk pelan-pelan sebagaimana layaknya kendaraan yang masuk ke kompleks gedung LP tersebut.

Akibatnya, sejumlah wartawan yang akan mengambil gambar kesulitan sebab mobil itu berdiri tepat di pintu masuk LP yang terbuat dari lempengan besi.

Ketika pintu itu terbuka, mobil itu dengan cepat masuk ke dalam LP dan pintu kembali ditutup.

Mobil tim eksekutor diparkir di halaman kemudian para petugasnya masuk ke LP Cipinang dengan berjalan kaki. Mobil polisi malah parkir di tepi jalan raya.

Sekitar pukul 00.00, tim eksekutor yang ke luar LP Cipinang menjadi sasaran pertanyaan sejumlah wartawan.

Sebelum menjawab pertanyaan wartawan, tim eksekutor memperkenalkan diri dengan santai. Sikap ini berbeda saat mereka membawa Polycarpus.

Tim eksekutor itu antara lain Jaksa Penuntut Umum Didik Farkhan, Pelaksana Harian Kasi Pidana Umum PN Jakarta Pusat Bambang Setyadi, Asisten Pidana Umum Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta Fitra Sani dan Direktur Eksekusi Kejaksaan Agung Kamal Sofyan.

“Kami sudah selesai. Pollycarpus sudah ada di dalam. Ia berada di ruang penampungan untuk asimilasi atau masa perkenalan. Ini sudah bisa dijalani oleh setiap napi yang baru masuk,” kata Sani.

Ia mengatakan, dengan begitu, proses pemenjaraan Pollycarpus di LP akan menjadi wewenang LP Cipinang.

Ia mengakui bahwa lancarnya proses eksekusi tidak terlepas dari sikap kooperatif Pollycarpus.

Kamal Sofyan menambahkan, begitu putusan MA keluar, tim intelijen Kejaksaan Agung langsung memonitor sekitar kediaman Pollycarpus agar jalannya eksekusi dalam lancar.

“Bahkan tim Jamintel telah dua hari berada di sekitar rumah Pollycarpus,” katanya.

Isteri Pollycarpus

Kesetiaan isteri Pollycarpus, Yosepha Hera Iswandari (42) kembali ditunjukkan untuk kali ini. Dengan wajah yang menampilkan perasaan sedih, ia mengantar suaminya untuk menjalani masa vonis penjara selama 20 tahun.

Saat Pollycarpus ditahan selama 18 bulan di Rutan Mabes Polri pun, Hera hampir tiap hari mengunjungi suami yang menikahinya pada 18 Januari 1986 itu.

Hera selalu membawakan baju bersih, membawa pulang baju kotor dan mengantar makanan buat suaminya baik ketika ditahan di Mabes Polri maupun LP Cipinang.

Dalam setiap persidangan yang melibatkan Pollycarpus, Hera hampir selalu mendampinginya dengan tegar.

Setiap pernyataan dari pihak lain dan pertanyaan wartawan yang menyudutkan suaminya dijawab dengan lantang dan tidak kalah lantangnya dengan isteri Munir, Suciwati yang sejak awal berjuang keras mencari keadilan.

Bahkan, usai mengantar suaminya di LP Cipinang, Sabtu dini hari sekitar pukul 00.20 WIB, Hera tetap melayani pertanyaan wartawan termasuk mendamprat wartawan yang memojokkan suaminya.

Dengan raut muka sedih dan mata berkaca-kaca ia memaki wartawan yang menanyakan soal perasaan dirinya.

“Apa pantas saudara menanyakan seperti itu, Anda bisa lihat sendiri,” katanya dengan lantang dengan mata melotot ke arah watawan yang bertanya.

Sikap yang sama ditunjukkan ketika ada wartawan yang menanyakan soal bekal yang dibawa Pollycarpus.

“Kalau tanya itu yang pandai dong. Situasi begini malah tanya soal bekal,” katanya dengan geram.

Konsultasi

Hera mengatakan bahwa dia akan secepatnya berkonsultasi dengan Tim Kuasa Hukum yang dipimpin M Assegaff untuk melakukan langkah berikutnya.

“Saya kan tidak tahu hukum, jadi saya akan tanya dulu kepada Pak Assegaff,” ujar Yosefa.

Ia menegaskan bahwa Pollycarpus dan dirinya akan tetap berpegang pada prosedur hukum yang berlaku dan tidak akan mundur dalam menghadapi kasus yang membelit Pollycarpus.

“Polly tidak membunuh Munir, apa ada bukti sisa arsen saat itu, semuanya hanya berdasarkan katanya-katanya saja dan tidak ada bukti sama sekali,” kata Yosefa.

Ia juga mempertanyakan tidak adanya otopsi ulang jenazah Munir dan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) sehingga kasus pembunuhan Munir dapat dilihat jelas.

Padahal, ia sejak awal meminta agar ada otopsi untuk mengetahui penyebab kematian.

Ia juga menyoroti komentar istri Munir, Suciwati, yang mengaku tidak puas dengan vonis 20 tahun penjara.

“Kepada Suciwati saya tegaskan Pollycarpus bukan alat pemuas,” tegasnya.

Pernyataan itu adalah ucapan terakhir sebelum ia masuk ke mobil untuk meninggalkan LP Cipinang.

Ia juga sempat melambaikan tangan kepada wartawan dari balik kaca mobilnya sambil mengucapkan “terima kasih”. (*)


Gus Dur: Yang Perintahkan Pollycarpus Kini Jadi Menteri

Februari 1, 2008

Surabaya – Ketua Dewan Syuro DPP PKB KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menyatakan orang yang memerintahkan Pollycarpus untuk membunuh aktivis HAM Munir SH saat ini menjadi menteri.

“Yang kasihan itu Pollycarpus, karena dia kena 20 tahun penjara, tapi orang yang sesungguhnya memerintahkan membunuh Munir bebas lepas, bahkan jadi menteri. Terus, piye (lalu, bagaimana),” katanya di Surabaya, Sabtu.

Di hadapan ratusan peserta Musyawarah Wilayah Luar Biasa (Muswilub) PKB Jawa Timur, mantan presiden itu mengatakan saksi kunci justru “dilepas” (tidak boleh bicara) yakni dari BIN –Budi Santoso.

“Bahkan, dia diberi tugas di luar negeri,” katanya, menanggapi vonis MA terhadap terpidana pembunuhan aktivis HAM Munir SH, Pollycarpus Budihari Priyanto (25/1).

Didampingi putrinya Zannubah Arifah Chofsoh (Yenny Wahid), ia menilai pemerintah sering berbohong kepada rakyat dengan membebaskan orang yang bersalah.

“Pelaku illegal logging, contohnya. Bahkan, orang yang dibebaskan seperti Adelin Lis itu ke Cikeas juga, tapi dia bertemu Suko Sudarso yang sangat dipercaya di sana,” katanya.

Oleh karena itu, katanya, dirinya berharap pemerintah bersikap terus-terang tentang kasus pembunuhan Munir, termasuk siapa yang memberi perintah Pollycarpus untuk melakukan itu.

“Kalau terus-terus begini, biar saja, nanti akan saya buka terang-terangan,” kata cucu pendiri NU KH Hasyim Asy`ari itu dalam Muswilub PKB Jatim yang akan memilih ketua baru itu.

Ketika dikonfirmasi pers tentang menteri yang dimaksud, Gus Dur tampak bungkam hingga memasuki mobilnya, sedangkan Yenny Wahid juga mengaku tidak tahu. “Nggak (tidak) tahu, bapak nggak pernah ngomong,” katanya.

Sebelumnya, majelis hakim MA yang memeriksa dan mengadili permohonan Peninjauan Kembali (PK) kasus kematian aktivis HAM Munir menjatuhkan hukuman 20 tahun penjara kepada Pollycarpus BP (25/1).


Penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta Terganggu

Februari 1, 2008

Jakarta – Administrator bandara (Adbandara) Soekarno-Hatta menyebutkan, sedikitnya 237 penerbangan di Bandara Soekarno Hatta terganggu akibat cuaca buruk sejak Jumat pagi (1/2).

“Dari jumlah itu terdiri 58 penerbangan dialihkan ke bandara lain dan 177 penerbangan tertunda atau delay,” kata Adbandara Soekarno-Hatta, Herry Bhakti saat dihubungi di Jakarta, Jumat petang.

Dari 177 penerbangan yang delay tersebut, pesawat yang tak jadi datang sebanyak 92 penerbangan dan pesawat yang hendak ke luar dari bandara namun tertunda sebanyak 87 penerbangan.

Persoalan tersebut, kata Herry, terjadi karena cuaca buruk yang berujung pada penutupan bandara sejak pukul 10.20 WIB sampai dengan 14.30 WIB.

“Jarak pandang visibel tadi pagi hanya maksimum 300 meter jauh dari kondisi normal minimal di atas 600 meter,” kata Herry.

Meski dibuka sejak pukul 14.30 WIB, kata Herry, kondisi pelayanan masih 75 persen karena kedua landasan pacu tidak bisa maksimal.

“Runway utara bisa untuk take off dan landing, sedang runway selatan hanya untuk take off saja,” kata Herry.

Hal itu karena, tambah Herry, karena runway selatan terdapat genangan air setinggi 50 cm karena sungai di dekat runway, meluap. (*)

COPYRIGHT © 2008


MINYAK TANAH LANGKA, WARGA SUKABUMI GUNAKAN KAYU BAKAR

Januari 12, 2008

Sukabumi, Langkanya minyak tanah di Sukabumi yang disebabkan kurangnya pasokan dari Pertamina membuat sebagian warga Kota dan Kabupaten Sukabumi menggunakan kayu bakar untuk memasak.

Informasi yang diperoleh, Senin (7/1), menyebutkan, harga minyak tanah per liternya dulu hanya Rp 2.500 kini menjadi Rp3.000/liter. Kelangkaan minyak tanah tersebut diantisipasi sebagian warga dengan mengganti kayu sebagai bahan bakar untuk memasak.

“Permintaan minyak tanah saat ini dibatasi sehingga warga mencari alternatif lain,” kata salah seorang warga di Kampung Liung Tutut Kelurahan Cisarua, Kecamatan Cikole Kota Sukabumi, Yanti Resmiyanti (41).

Menurut dia, ditempat tinggalnya sudah ada 15 orang warga yang beralih menggunakan kayu bakar sebagai bahan bakar sehari-hari.

“Selama dua minggu kami menunggu pasokan minyak tanah dan hari Minggu (6/1) lalu diberikan jatah hanya sebesar lima liter tidak boleh lebih. Padahal, untuk mendapatkan pasokan minyak tanah lagi kemungkinan harus menunggu satu pekan mendatang,” keluhnya.

“Kalau mengandalkan minyak tanah, warga akan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” tambahnya.

Disebutkannya, harga minyak tanah saat ini pun naik dari Rp2.500/liter menjadi Rp2.900 hingga Rp3.000/liter, sehingga sangat memberatkan warga yang tak mampu yang masih ketergantungan dengan minyak tanah.

Sementara itu, salah seorang warga di Kampung Babakan Bandung, Kelurahan Subangjaya Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi, Engkar (51) menyatakan sudah sepekan ini sulit membeli minyak tanah dan harganya pun mahal.

“Biasanya seminggu bisa membeli lima liter minyak tanah, sekarang ini hanya ada tiga liter. Harganya pun naik dari R2.500/liter menjadi Rp3.000/liter,” katanya.

Ia mengaku terpaksa mengganti bahan bakar minyak tanah dengan kayu bakar guna menutupi kekurangan minyak tanah untuk kebutuhan sehari-hari, namun untuk mendapatkan kayu bakar pun sulit karena kondisi musim hujan menyebabkan kayu yang bagus untuk menjadi bahan bakar menjadi basah.

Sebelumnya, Ketua Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) Sukabumi-Cianjur, Andri Hamami membantah, adanya kelangkaan minyak tanah di Kota/Kabupaten Sukabumi karena kelangkaan yang terjadi hanya pada hari libur natal dan tahun baru lalu.

“Minyak tanah masih beredar dan tidak terjadi kelangkaan seperti yang digembor-gemborkan. Isu kelangkaan beredar di masyarakat karena terpengaruh pemberitaan di media massa,” katanya di Sukabumi, Kamis.

Dikatakannya, pada hari-hari terakhir ini jumlah permintaan meningkat dibandingkan kondisi normal dan masyarakat terkena isu akan terjadi kenaikan sehingga membeli minyak tanah di luar biasanya.

Menurut dia, pasokan minyak tanah berjalan normal dan tidak terjadi keterlambatan, tetapi bila ada keterlambatan beberapa waktu lalu dipengaruhi libur natal dan tahun baru.

“Jika terjadi kelangkaan, kami siap melakukan operasi pasar. Namun, saya yakin pasokan minyak tanah tetap lancar di tengah meningkatnya jumlah permintaan,” tegasnya.

Andri juga menepis anggapan terjadinya kelangkaan karena adanya penimbunan minyak tanah, pasalnya sistem pengawasan yang dilakukan pemerintah dan pihak lainnya cukup ketat.

“Bila saat ini kurang ketat, maka akan ditingkatkan pengawasannya,” ujarnya seraya menambahkan warga Kabupaten/Kota Sukabumi sekitar 90 persen masih menggunakan minyak tanah dan belum terbiasa dengan bahan bakar lainnya.