RADIOSTAR, Siapa Tahu Bakal Jadi Bintang

Februari 1, 2008

pendatang_baru_23.jpg

RASANYA, tak habis-habisnya band baru bermunculan. Padahal jujur saja, persaingan untuk mendapat tempat di hati pecinta musik Indonesia, mereka harus berebut yang sempit itu. Hal itu bukannya tidak disadari oleh band yang menamakan dirinya RADIOSTAR. Tapi, ketika akhirnya mereka merilis album perdana, tentu sudah dengan perhitungan yang tidak main-main.

RADIOSTAR memang band baru. Mereka berasal dari Jakarta dengan satu keinginan menghasilkan karya-karya yang bisa diterima di hati masyarakat. Sebuah keinginan standar sebenarnya, tapi tentu didukung karya yang tidak standar.

Band yang berdiri tahun 2003 ini, sekarang diawaki oleh Ritma [Vocal], Ritwan [Guitar], Ari [Guitar], Yudi [Bass], Dimas [Keyboard], dan Chandra [Drum], Awal berdirinya bernama YO Band. Ketika berdiri, pop alternative menjadi pilihan mereka untuk bermusik.

Meski sebelumnya belum merilis album, tapi kiprah mereka sebaga satu band potensial cukup lumayan. Mereka pernah menjadi line-up SOUNDRENALINE : MAKE MUSIC NOT WAR di JAKARTA [Desember 2004], SOUNDRENALINE : REBORN REPUBLIC di Bandung [Agustus 2005], dan GUDANG GARAM SALAM LEBARAN di Serang [ November 2005]. Kalau tidak punya karya yang apik, mana mungkin mereka terpilih?

Kalau kemudian mereka merilis album perdana bertitel RADIOSTAR, rasanya tak berlebihan kalau mereka katakan siap bersaing dengan band-band lain yang sudah eksis duluan. Tembang andalan yang diharap bisa mencuri dengar adalah Sebuah Obsesi. Bukan lagu baru, karena sebelumnya pernah dipopulerkan oleh Fariz RM dan Neno Warisman di era 80-an. “Lagu ini hanya trigger saja, supaya masyarakat kenal dengan kami,” jelas mereka yakin.

Di album dengan Anto PW sebagai music director ini, RADIOSTAR menahbiskan sembilan lagu lainnya sebagai karya mereka sendiri. Salah satunya yang diharap menjadi jagoan berikutnya adalah single Aku. Lagu lembut tentang cinta. Yah, memang semuanya nyaris bertutur tentang cinta. Bukankah cinta adalah satu topik abadi yang tak pernah habis untuk dikupas?

RADIOSTAR memang wajah baru di pentas musik Indonesia. Tapi musikalitas yang mereka usung, menunjukkan mereka bukan orang “kemarin sore” yang baru bermusik. Soal sukses atau tidaknya, kadang-kadang keberuntungan itu perlu. RADIOSTAR pun perlu itu..


MAGNET Band, Pernah ‘Digantung’ Label Besar

Februari 1, 2008

pendatang_baru_25.jpg

SELARASFM. sebagai barometer musik, kita sudah tahu. Tapi kalau ada band dari daerah yang coba masuk, tentu harus didukung. Apalagi kalau [kelak] semua daerah besar dan kecil seluruh Indonesia bisa menyumbangkan musisinya, wah..pasti paten.

Salah satu daerah yang sebenarnya dekat dengan Jakarta, Sukabumi, kali ini mencoba menggebrak. Kota dingin di Jawa Barat ini, memunculkan band bernama MAGNET ikut berkiprah di pentas musik nasional. Harapannya seperti magnet beneran, bisa menarik banyak orang untuk mendengar musik mereka. Mimpi?

Rasanya tidak, karena mereka punya bekal musikal yang cukup. Awalnya band yang berdiri tahun 2002 ini mengusung musik-musik Top 40. Personilnya, Angling Sagaran [vokal], Rangga [bass], Ulfhan [gitar], Ilham Munggaran [kibor], dan Ryan Andrean [drum] tergolong nama-nama yang cukup dikenal di Sukabumi. Dulu namanya adalah Empire Band. Sampai akhirnya mereka memutuskan untuk “menjadi diri sendiri” dan berubah menjadi MAGNET.

Mereka sempat dikontrak dan rekaman dengan salah satu label besar di Indonesia. Sayangnya, kasetnya tak kunjung beredar. “Kami seperti dibodohi,” kata Angling ketika melaunching album perdananya Melintasi Logika di Tee Box Cafe, Jumat [24/3/2006] lalu. Imbas dari kejadian itu, menurut Angling, justru tercipta satu lagu berjudul Mati Dalam Pelukanmu yang masuk dalam album ini.

Lewat single Penantian Bodoh, MAGNET tampil dengan permainan musik yang rapi dan cukup apik. Karakter vokal Angling cukup menjanjikan meski secara karakter lagu, mirip-mirip dengan Muse.

MAGNET menjadi tambahan band yang meramaikan blantika musik tanah air. Lagi-lagi, tak cuma materi yang apik, tapi strategi promosi dan keberuntungan tetap dibutuhkan. Kalau tidak, MAGNET bisa kehilangan daya hisapnya.


[R]-Port Band; Tak Cuma Modal Nekat

Februari 1, 2008

pendatang_baru_27.jpg

BERANI BERTARUH, band yang merilis album di tengah-tengah persaingan yang ketat sekarang ini, adalah band nekat. Nekat secara karya dan nekat juga secara modal. Tapi salahkah mereka nekat? Tentu saja tidak. Malah siapa tahu mereka mencuri perhatian.

Dan hal itulah yang dilakukan oleh band bernama [R]-PORT Band [baca: Airport Band]. Mereka adalah Robby [vokal], Pierre [gitar], Ovx [bass] dan Renot [drum]. Meski tanpa gelegar yang besar, mereka berani merilis full album yang diberi titel MAHA CINTA. Album ini dirilis oleh label Plaza Record.

Apa menariknya band baru ini? Sebenarnya, secara tampilan mereka tidaklah istimewa. Musikalitas yang mereka bawa juga tidak memberikan alternatif baru untuk penikmat musik Indonesia. Tapi keberanian mereka tetap harus mendapat apresiasi. Dalam launching di Tee Box Cafe, Jumat [24/3/2006] mereka memamerkan beberapa lagu yang ada di album pertama.

Single yang mereka jagokan adalah Dewa Penjaga. Dengan sentuhan rock yang, lagu yang tetap kental dengan nuansa pop ini mencoba menyodok kuping penikmat musik. Suara Robby yang serak, harusnya bisa jadi kekuatan. Berkarakter ngerock tapi kasar, bisa jadi perpaduan yang unik.

Band asal Bogor yang sudah main bareng sejak SMP ini juga sudah meyiapkan single kedua berjudu DUA [2]. Temanya memang sedang trend, selingkuh. Anehnya, meski single kedua, tapi klipnya justru beredar duluan. Selain itu, video klipnya cukup “eksperimental” lantaran digarap oleh duo Moonaya dan Justin Flood, pasangan kliper asal Amerika yang biasa menggarap film-film eksperimental di Amerika sana.

Niat sudah ada, karya sudah tercetak, dan dibantu nama-nama yang cukup kuat. Tetapi soal diterima atau tidak, [R]-Port Band sendirilah yang harus membuktikan. Berani?