Teror Hantu Ambulance

Maret 1, 2008

Setelah sukses menutup tahun 2007 dengan “Film Horor”, Indika Entertainment kembali mengangkat genre horor sebagai tema cerita di awal tahun 2008 ini.

Film berjudul Hantu Ambulance ini menceritakan tentang sekian puluh tahun berlalu, Rano (Dimas Andrean) beranjak dewasa. Rano bersama teman-temanya Dicky (William Alvin), Ocha (Ratna Galih), dan Popi (Fitria ayu), meneruskan kuliahnya di Bandung.

Mereka sepakat tinggal bersama di satu kontrakkan di jalan Bauk Reksa, Bandung. Tanpa disengaja, takdir telah mempertemukan Rano dengan kediamannya masa lalu dia bersama keluarganya yang pernah tinggal di rumah itu. Namun Rano tidak sepenuhnya ingat, karena kala itu dia masih berusia dua tahun saat harus meninggalkan rumah tersebut dan terpisah dari keluarganya dan sejak saat itu Rano diasuh dan dibesarkan oleh neneknya, Widya (Suzanna).

Mengawali hari pertama pindah mereka pun berbenah. Namun ada satu hal yang janggal di rumah itu. Sebuah mobil Ambulance tua berbalut terpal lusuh parkir di halaman rumah. Si empunya rumah berkilah itu hanya Ambulance peninggalan suaminya semasa hidupnya bekerja sebagai sopir mobil Ambulance.

Sedangkan rumor yang berhembus kuat di masyarakat menyebutkan bahwa Ambulance itu merupakan Ambulance setan. Pada malam-malam tertentu Ambulance tersebut berjalan tanpa ada pengemudinya berkeliling di sekitar jalan Baut Reksa.

Dan ternyata rumor warga tentang Hantu Ambulance bukan hanya isapan jempol belaka. Semenjak Rano dan teman-temannya tinggal di rumah itu, teror-teror gaib dan mengerikan kerap mereka alami. Terutama Ambulance yang berjalan sendiri tanpa ada pengemudinya, rumah itu ternyata menyimpan banyak kisah masa lalu yang suram dan terlebih lagi, menyimpan kutukan makhluk gaib yang memburu nyawa manusia sebagai tempat pesugihan yang tertunda.

Di tengah teror Hantu Ambulance yang membabi buta, Rano kerap dihantui anak perempuan kecil dengan wajah penuh luka baker tersenyum menyeringai. Kilasan-kilasan memori masa lalu Rano di rumah itu pun kian menguat sejak pemunculan Hantu perempuan itu. Rano merasa mengenal sosok hantu perempuan tersebut. Seperti de’javu.

Dari penggalan-penggalan kisah masa lalu yang mulai terkuak, Rano memohon kepada Widya untuk sudi bercerita dan menyibak tabir misteri masa lalu Rano dan kaitannya dengan teror rumah itu. Terungkap sudah masa lalu keluarga Rano nan kelam yang selama ini ditutup rapat oleh Widya. Rano amat sedih dan kecewa, karena teman-temannya harus menjadi korban amarah makhluk gaib yang dendam pada keluarga Rano. Dicky bahkan harus meregang nyawa saat hendak memusnahkan Ambulance terkutuk itu. Rano pun bertekad mematahkan kutukan itu dengan caranya sendiri meski harus bertaruh nyawa.

Benarkah keluarga Rano pernah bersekutu dengan setan hingga menyulut teror gaib di rumah itu? Apakah benar Rano merupakan tumbal yang terlewat dari pesugihan orangtuanya? Mampukah Rano mematahkan kutukan Hantu Ambulance dan menyelamatkan teman-temannya dari ancaman Hantu Ambulance? Saksikan Film Hantu Ambulance di seluruh bioskop Indonesia kesayangan Anda mulai 21 Februari 2008.


Ayat-Ayat Cinta: Kisah Cinta Dituntun Takdir

Maret 1, 2008

Satu pria dikelilingi empat wanita cantik. Siapa yang tak senang? Namun, tidak demikian yang dirasakan Fahri bin Abdillah (Fedi Nuril).

Fahri adalah pelajar Indonesia yang berusaha menggapai gelar master di Universitas Al-Ahzar, Mesir. Sifatnya yang baik hati, tulus, sopan dan selalu memperlakukan wanita dengan baik, memikat para wanita.

Masing-masing wanita itu berharap, Fahri menyambut perasaan mereka. Namun, Fahri yang sejak awal menginjakkan kaki di Mesir memiliki berbagai target dan berusaha menjalani hidup dengan cara Islam, masih belum berani memilih siapa jodohnya.

Empat wanita itu di antaranya, Nurul binti Ja’far Abdur Razaq (Melanie Putria), anak kyai besar di Jawa Timur. Dia memendam rasa suka dan simpati kepada Fahri tanpa berani mengungkapkan meski hanya lewat surat seperti gadis lain.

Lalu, Maria Girgis (Carissa Putri), gadis Kristen Koptik yang bertetangga dengan Fahri. Meski beragama Kristen, dia amat mengagumi Al-Quran. Cintanya yang dalam kepada Fahri menimbulkan penderitaan yang menyiksa dirinya.

Aisha (Rianti Cartwright), gadis keturunan Jerman dan Turki bermata indah yang cerdas dan kaya. Dia pertama kali bertemu Fahri saat sama-sama berada di satu metro (alat transportasi di Mesir). Fahri membela Aisha dari serangan pria kasar yang mengisyaratkan bahwa Islam kolot dan kaku. Pertemuan itu menumbuhkan cinta di hati Aisha. Fahri pun tak bisa mengingkari isi hatinya.

Lalu, Noura bin Bahadur (Zaskia Mecca). Gadis yang terus menerus mengalami siksaan ayahnya itu menyentuh hati Fahri untuk membantu melepaskan diri dari siksaan sang ayah.

Kebaikan demi kebaikan dilakukan dengan tulus oleh Fahri, terhadap siapa pun tanpa pandang bulu. Sayang, kebaikannya itu justru menjadi bumerang.

Singkat cerita, Fahri menemukan jodoh dan menikahi salah satu gadis tersebut. Ternyata, pernikahannya malah menimbulkan masalah baru hingga membuat Fahri dipenjara akibat tuduhan melakukan pemerkosaan.

Sakit hati yang dialami gadis lain yang tak dipilih Fahri sebagai istri, menyerangnya dan mengancam kehidupan serta rumah tangganya.

Mampukah Fahri tetap menjalani semua dengan keikhlasan dan kesabaran sebagai kuncinya. Lantas, siapa yang dipilih Fahri untuk dinikahi?

Kisah cinta yang bukan cinta biasa ini tertuang dalam film adaptasi novel best seller karya Habiburrahman El Shirazy, Ayat-Ayat Cinta.

Disutradari oleh sutradara yang biasa menyutradari film komedi dan anak muda, Hanung Bramantyo, membuat film dengan nuansa Islami ini hadir tanpa terkesan menggurui.

Mengambil lokasi syuting di Semarang dan mengganti Mesir dengan India, cukup menggambarkan keadaan Mesir sesuai dengan jalan cerita. Setidaknya, film yang sempat beberapa kali diundur waktu rilisnya dan membuat sejumlah orang penasaran ini, bisa memuaskan penonton.

Namun, bagi yang sempat membaca novelnya, pasti menyadari ada beberapa bagian yang berbeda antara versi novel dengan film. Seperti apa bedanya, hanya bisa ditemukan dengan menyaksikan Ayat-Ayat Cinta yang mulai dirilis 19 Februari 2008, di bioskop.

Judul : Ayat-Ayat Cinta
Sutradara : Hanung Bramantyo
Pemain : Fedi Nuril, Melanie Putria, Carissa Putri, Rianti Cartwright, Zaskia Mecca, Surya Saputra
Produksi : MD Entertainment.(ang)


Jokowi Tak Mau Jadi Manajer Persis

Maret 1, 2008

SOLO – Wali Kota Solo Joko “Jokowi” Widodo menghindar dari pencalonan dirinya sebagai Manajer Persis pada Liga Indonesia (Ligina) 2008. Sayangnya, orang nomor satu di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Solo itu tak menyampaikan alasannya.

Jokowi menyatakan, masih banyak figur yang layak dicalonkan sebagai kandidat Manajer Laskar Sambernyawa, julukan Persis. Salah satu nama yang direkomendasikan Jokowi sebagai calon kandidat Manajer Persis adalah Dwi Heriyanto B. “Tidak masalah kalau saya dicalonkan sebagai Manajer Persis. Tapi, kan masih banyak figur lain yang juga cukup kompeten untuk menangani Persis,” ujar Jokowi.

Menurut Jokowi, Dwi yang saat ini tercatat sebagai General Manajer Kandatel Solo dianggap mampu mengelola Manajemen Persis. “Saya rasa, dia layak dicalonkan sebagai Manajer Persis. Dia ini masih muda, jadi cukup energik untuk mengangani tim sepak bola,” lanjutnya.

Sementara itu, Ketua Umum (Ketum) Persis F.X. Hadi Rudyatmo mengaku tak mempermasalahkan mundurnya Jokowi dari pencalonannya sebagai Manajer Persis. Menurut pria yang juga menjabat sebagai Wakil Wali Kota Solo itu, mundurnya Jokowi merupakan hal wajar. Apalagi, kesibukannya sebagai Wali Kota Solo jelas tak bisa ditinggalkan.

Lantas, bagaimana tanggapan pria yang akrab disapa Rudy itu atas rekomendasi Jokowi yang mengajukan Dwi Heriyanto sebagai kandidat kuat Manajer Persis?. “Saya akan bawa nama-nama yang disodorkan Pak Wali ke rapat pleno pengurus,” jelas Rudy.

Selain Dwi Heriyanto, nama Manajer Persis saat tampil di Divisi I Sumartono Hadinoto turut meramaikan bursa pencalonan manajer. Selanjutnya, nama-nama kandidat Manajer Laskar Sambernyawa dibawa dalam rapat pleno pengurus yang akan digelar pekan pertama Maret ini.

Terpisah, Dwi Heriyanto ketika dikonfirmasi tidak bisa memberikan jawaban secara pasti. Hanya saja, Dwi Heriyanto secara tegas menolak pencalonannya sebagai Manajer Persis. “Ah, itu hanya bisa-bisanya Pak Wali dan Pak Wawali saja. Tidak mungkin saya mampu menangani Persis,” tukas Dwi.

Meski demikian, Dwi mengaku sudah punya komitmen dalam membantu mengatasi masalah pendanaan Persis. Bahkan, dia mengakui jika rencana tersebut sudah dibicarakan secara serius dengan Rudy.

Salah satu mekanisme kerjasamanya adalah dengan penggalangan dana melalui short massage service (SMS). “Saat ini kami sedang menyusun proposalnya. Mungkin minggu depan saya akan bertemu dengan Pak Wali untuk membicarakan masalah ini,” jelas Dwi.


Persela Incar Modestus

Maret 1, 2008

SEMARANG – Satu lagi punggawa PSIS Semarang yang dipastikan segera hengkang dari Kota Lumpia. Ya, Modestus Setiawan yang sebelumnya dikabarkan merapat ke Persib Bandung ternyata saat ini sedang menjalin pembicaraan serius dengan Persela Lamongan.

Saat dihubungi Modestus membenarkan kabar adanya tersebut. Bahkan menurut pengakuannya, masih ada dua klub lagi yang berminat meminang mantan pilar Persijatim Solo FC itu. Seperti pemain kebanyakan, Modestus pun enggan membeberkan dua nama klub yang mengincarnya tersebut.

“‘Memang sudah ada tiga klub yang menghubungi saya. Dua dari peserta Liga Super dan satu lagi dari Divisi Utama,” ujar Modestus.

Disinggung soal kemungkinananya membela Laskar Ken Arok, julukan Persela, Modestus mengaku, proses negosiasi baru mencapai 70 persen. “Negosiasi dengan Persela baru sekitar 70 persen. Sampai sekarang belum ada kesepakatan soal harga,” tegas pria yang akrab disapa Tutus itu.

Hanya saja, kemungkinan besar Tutus akan memilih klub yang secara geografis memiliki letak yang tidak terlalu jauh dari Kota Atlas. Alasannya, dia tak bisa meninggalkan ayahnya yang memang sekarang tinggal sendirian di rumah. “Bapak sekarang di rumah sendirian. Jadi, kemungkinan saya akan memilih klub yang tidak terlalu jauh dari Semarang,”” lanjutnya.

Dia menampik jika dikatakan pilih-pilih klub. Dimana pun berlabuh, Tutus menggaransi akan bermain semaksimal mungkin. Dan berusaha mempersembahkan yang terbaik kepada klub yang dibelanya. Apalagi, cedera yang menghantuinya sepanjang musim 2007 lalu sudah pulih 100 persen.

Asisten Manajer Persela Lamongan M. Fadelli membenarkan kabar tersebut. Meskipun dia masih bungkam soal kepastian Tutus berlabuh di Persela musim 2008. “Memang sudah ada pembicaraan. Tapi sudah sampai mana?. Nanti saja kalau semua sudah pasti,” cetus Fadelli.

Hengkangnya Tutus dari Mahesa Jenar, julukan PSIS semakin menambah daftar panjang eksodus pemain. Karena sebelumnya Maman Abdulrahman, Harry Salisbury, I Komang Putra, Kahudi Wahyu dan M. Ridwan memastikan diri meninggalkan Stadion Jatidiri, Semarang.


Hopkins Belum Tampil 100 Persen

Maret 1, 2008

LOSAIL – Performa John Hopkins di sesi latihan balapan malam memang menjanjikan. Pembalap Kawasaki Racing Team ini mampu berada di posisi ketujuh dari 19 pembalap yang ikut menjajal Losail di malam hari kemarin. Hebatnya, Hopkins saat itu tampil dengan cedera yang belum pulih seratus persen.

Mantan pembalap Suzuki ini memang baru saja sembuh dari cedera yang diperolehnya saat beraksi di tes Philip Island awal bulan lalu. Dan pembalap berjuluk The Hopper ini menggeber motor ZX-RRnya tidak dalam kondisi terbaiknya.

Pembalap AS ini memang sempat tampil di Sirkuit Jerez pekan lalu pasca kecelakaan yang dialaminya. Dan di penampilan keduanya di Losail ini, The Hopper masih mengaku belum dalam keadaan 100 persen.

“Prioritas hari ini adalah memutuskan ban untuk balapan pertama pekan depan dan kami mengevaluasi kombinasi yang berbeda pada ban kualifikasi dan ban balapan. Ini adalah tes yang saya lakukan setelah mengalami cedera dan memang mengalami perkembangan yang lamban,” ujar Hopkins seperti yang dilansir Autosport, Sabtu (30/2/2008).

Rekan setim Anthony West ini mengaku, bahwa kembali ke bentuk terbaiknya pasca cedera memang menjadi hal yang sulit. Hal itu disadari Hopkins yang akan memforsir tenaganya pekan ini untuk mengembalikan kemampuannya mengendarai RX-ZZnya.

Saat ditanya mengenai pengalamannya menjalani tes hari pertama kemarin, Hopkins juga mengaku puas dan tidak mempermasalahkan sistim pencahayaan di Sirkuit Losail. Namun, dirinya juga mengamini ucapan Valentino Rossi yang mengatakan suhu lintasan sangat dingin.

Dalam sesi latihan itu, Hopkins juga mengakui bahwa timnya telah menemukan ban terbaiknya dan akan segera mempelajari set-up mesin barunya di sesi berikutnya.


Komnas HAM: Lapindo Membebani Rakyat Indonesia

Maret 1, 2008

JAKARTA – Pencairan dana Rp700 miliar untuk tiga desa korban lumpur Lapindo, dianggap membebani rakyat Indonesia. Alasannya, ganti rugi yang seharusnya dilakukan oleh PT Lapindo Brantas itu menjadi beban negara karena menggunakan APBN.

“PT Lapindo telah membebankan rakyat Aceh sampai Papua,” ujar anggota Komnas HAM Syafruddin Ngulma Simeulue, dalam perbincangannya dengan okezone, di Jakarta, Sabtu (1/3/2008).

Syafruddin yang juga sebagai anggota tim Kasus Lapindo menegaskan, ganti rugi yang dilakukan pemerintah tersebut seharusnya merupakan pinjaman kepada PT Lapindo. Maka itu, perusahaan milik Menko Kesra Aburizal Bakrie itu harus menggantinya.

Namun, untuk hal tersebut pemerintah harus segera mengganti Perpres 14 tahun 2007 tentang Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS). “Artinya, boleh ditalangi tapi harus diganti. Untuk itu, pemerintah harus mencabut Keppres 14 Tahun 2007,” kata Syafruddin.

Dalam kasus yang merugikan warga desa Sidoarjo ini, Syafruddin menganggap, pemerintah telah diintervensi oleh kekuatan koorporasi. Sehingga, pemerintah tidak bisa mengeluarkan kebijakan yang berpihak kepada warga Sidoarjo. “Pemerintah telah diintervensi oleh kekuatan koorporasi. Ini sangat berbahaya,” pungkas anggota Komnas HAM yang punya rekam jejak panjang di bidang lingkungan hidup ini