AQuarius

Februari 1, 2008

aquarius.jpg


Warner Musik Indonesia.

Februari 1, 2008

INDONESIA
Warner Music Indonesia
Kompleks Mangga Dua
Plaza Blok D 12A
Mangga Dua Selatan
Jakarta 10730


RADIOSTAR, Siapa Tahu Bakal Jadi Bintang

Februari 1, 2008

pendatang_baru_23.jpg

RASANYA, tak habis-habisnya band baru bermunculan. Padahal jujur saja, persaingan untuk mendapat tempat di hati pecinta musik Indonesia, mereka harus berebut yang sempit itu. Hal itu bukannya tidak disadari oleh band yang menamakan dirinya RADIOSTAR. Tapi, ketika akhirnya mereka merilis album perdana, tentu sudah dengan perhitungan yang tidak main-main.

RADIOSTAR memang band baru. Mereka berasal dari Jakarta dengan satu keinginan menghasilkan karya-karya yang bisa diterima di hati masyarakat. Sebuah keinginan standar sebenarnya, tapi tentu didukung karya yang tidak standar.

Band yang berdiri tahun 2003 ini, sekarang diawaki oleh Ritma [Vocal], Ritwan [Guitar], Ari [Guitar], Yudi [Bass], Dimas [Keyboard], dan Chandra [Drum], Awal berdirinya bernama YO Band. Ketika berdiri, pop alternative menjadi pilihan mereka untuk bermusik.

Meski sebelumnya belum merilis album, tapi kiprah mereka sebaga satu band potensial cukup lumayan. Mereka pernah menjadi line-up SOUNDRENALINE : MAKE MUSIC NOT WAR di JAKARTA [Desember 2004], SOUNDRENALINE : REBORN REPUBLIC di Bandung [Agustus 2005], dan GUDANG GARAM SALAM LEBARAN di Serang [ November 2005]. Kalau tidak punya karya yang apik, mana mungkin mereka terpilih?

Kalau kemudian mereka merilis album perdana bertitel RADIOSTAR, rasanya tak berlebihan kalau mereka katakan siap bersaing dengan band-band lain yang sudah eksis duluan. Tembang andalan yang diharap bisa mencuri dengar adalah Sebuah Obsesi. Bukan lagu baru, karena sebelumnya pernah dipopulerkan oleh Fariz RM dan Neno Warisman di era 80-an. “Lagu ini hanya trigger saja, supaya masyarakat kenal dengan kami,” jelas mereka yakin.

Di album dengan Anto PW sebagai music director ini, RADIOSTAR menahbiskan sembilan lagu lainnya sebagai karya mereka sendiri. Salah satunya yang diharap menjadi jagoan berikutnya adalah single Aku. Lagu lembut tentang cinta. Yah, memang semuanya nyaris bertutur tentang cinta. Bukankah cinta adalah satu topik abadi yang tak pernah habis untuk dikupas?

RADIOSTAR memang wajah baru di pentas musik Indonesia. Tapi musikalitas yang mereka usung, menunjukkan mereka bukan orang “kemarin sore” yang baru bermusik. Soal sukses atau tidaknya, kadang-kadang keberuntungan itu perlu. RADIOSTAR pun perlu itu..


MAGNET Band, Pernah ‘Digantung’ Label Besar

Februari 1, 2008

pendatang_baru_25.jpg

SELARASFM. sebagai barometer musik, kita sudah tahu. Tapi kalau ada band dari daerah yang coba masuk, tentu harus didukung. Apalagi kalau [kelak] semua daerah besar dan kecil seluruh Indonesia bisa menyumbangkan musisinya, wah..pasti paten.

Salah satu daerah yang sebenarnya dekat dengan Jakarta, Sukabumi, kali ini mencoba menggebrak. Kota dingin di Jawa Barat ini, memunculkan band bernama MAGNET ikut berkiprah di pentas musik nasional. Harapannya seperti magnet beneran, bisa menarik banyak orang untuk mendengar musik mereka. Mimpi?

Rasanya tidak, karena mereka punya bekal musikal yang cukup. Awalnya band yang berdiri tahun 2002 ini mengusung musik-musik Top 40. Personilnya, Angling Sagaran [vokal], Rangga [bass], Ulfhan [gitar], Ilham Munggaran [kibor], dan Ryan Andrean [drum] tergolong nama-nama yang cukup dikenal di Sukabumi. Dulu namanya adalah Empire Band. Sampai akhirnya mereka memutuskan untuk “menjadi diri sendiri” dan berubah menjadi MAGNET.

Mereka sempat dikontrak dan rekaman dengan salah satu label besar di Indonesia. Sayangnya, kasetnya tak kunjung beredar. “Kami seperti dibodohi,” kata Angling ketika melaunching album perdananya Melintasi Logika di Tee Box Cafe, Jumat [24/3/2006] lalu. Imbas dari kejadian itu, menurut Angling, justru tercipta satu lagu berjudul Mati Dalam Pelukanmu yang masuk dalam album ini.

Lewat single Penantian Bodoh, MAGNET tampil dengan permainan musik yang rapi dan cukup apik. Karakter vokal Angling cukup menjanjikan meski secara karakter lagu, mirip-mirip dengan Muse.

MAGNET menjadi tambahan band yang meramaikan blantika musik tanah air. Lagi-lagi, tak cuma materi yang apik, tapi strategi promosi dan keberuntungan tetap dibutuhkan. Kalau tidak, MAGNET bisa kehilangan daya hisapnya.


[R]-Port Band; Tak Cuma Modal Nekat

Februari 1, 2008

pendatang_baru_27.jpg

BERANI BERTARUH, band yang merilis album di tengah-tengah persaingan yang ketat sekarang ini, adalah band nekat. Nekat secara karya dan nekat juga secara modal. Tapi salahkah mereka nekat? Tentu saja tidak. Malah siapa tahu mereka mencuri perhatian.

Dan hal itulah yang dilakukan oleh band bernama [R]-PORT Band [baca: Airport Band]. Mereka adalah Robby [vokal], Pierre [gitar], Ovx [bass] dan Renot [drum]. Meski tanpa gelegar yang besar, mereka berani merilis full album yang diberi titel MAHA CINTA. Album ini dirilis oleh label Plaza Record.

Apa menariknya band baru ini? Sebenarnya, secara tampilan mereka tidaklah istimewa. Musikalitas yang mereka bawa juga tidak memberikan alternatif baru untuk penikmat musik Indonesia. Tapi keberanian mereka tetap harus mendapat apresiasi. Dalam launching di Tee Box Cafe, Jumat [24/3/2006] mereka memamerkan beberapa lagu yang ada di album pertama.

Single yang mereka jagokan adalah Dewa Penjaga. Dengan sentuhan rock yang, lagu yang tetap kental dengan nuansa pop ini mencoba menyodok kuping penikmat musik. Suara Robby yang serak, harusnya bisa jadi kekuatan. Berkarakter ngerock tapi kasar, bisa jadi perpaduan yang unik.

Band asal Bogor yang sudah main bareng sejak SMP ini juga sudah meyiapkan single kedua berjudu DUA [2]. Temanya memang sedang trend, selingkuh. Anehnya, meski single kedua, tapi klipnya justru beredar duluan. Selain itu, video klipnya cukup “eksperimental” lantaran digarap oleh duo Moonaya dan Justin Flood, pasangan kliper asal Amerika yang biasa menggarap film-film eksperimental di Amerika sana.

Niat sudah ada, karya sudah tercetak, dan dibantu nama-nama yang cukup kuat. Tetapi soal diterima atau tidak, [R]-Port Band sendirilah yang harus membuktikan. Berani?


Jepang Sumbang 500.000 Yen untuk TN Gede-Pangrango

Februari 1, 2008

Cibodas, Jawa Barat – Masyarakat Jepang menyumbang dana senilai 500.000 yen yang dikumpulkan dari pengunjung Gunma Safari Park untuk gerakan penghijauan di Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango (TNGP), Jawa Barat.

Pemberian sumbangan tersebut secara simbolis ditandai dengan penyerahan pohon dari Presiden Direktur (Presdir) Gunma Safari Park, Kunihiko Takahasi, kepada Kepala TNGP, Bambang Sukmananto, di jalur pendakian Resor Gunung Putri, Cibodas, Senin.

Lokasi penyerahan pohon tersebut berada di lereng Gunung Gede, yang berketinggian 1.000 hingga 3.000 meter di atas permukaan laut (dpl).

Warga Kota Gunma dan pimpinan Gunma Safari Park ikut menanam langsung berbagai pohon bersama-sama Direktur Taman Safari Indonesia (TSI), Frans Manangsang, dan puluhan anggota Pramuka dari Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al-Ikhlas, Desa Sukatani, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur dengan panduan staf di TNGP.

Kerjasama untuk penghijauan di TNGP itu dilakukan sejak tahun 2004 dengan melibatkan tiga pihak yakni Gunma Safari Park, Jepang, Taman Safari Indonesia (TSI) Cisarua-Bogor dan TNGP Departemen Kehutanan (Dephut).

Usai penanaman pohon, Kunihiko Takahasi menjelaskan, pihaknya mendengar bahwa tingkat kerusakan hutan di Indonesia cukup serius, setelah hutan Amazon di kawasan Amerika Selatan.

“Maka, kami berinisiatif untuk mengadakan kegiatan penanaman,” katanya.

Ia menambahkan bahwa pada awalnya kegiatan penghijauan itu demi kepentingan satwa liar, karena bila hutan rusak maka keberadaan satwa liar endemik juga terganggu dan bisa terancam punah.

Kajian terbaru dari Dana Suaka Margasatwa (World Wildlife Fund for Nature/WWF) yang diluncurkan di Nusa Dua, Bali, dalam Konferensi Perubahan Iklim (UNFCCC) pada Desember 2007 menunjukkan bahwa kerusakan hutan Amazon, di kawasan Amerika Selatan, akan kian cepat akibat siklus perubahan iklim dan penggundulan hutan.

WWF memprakirakan, pada tahun 2030 sekitar 60 persen luas Amazon akan rusak dan memperburuk kondisi hidup penduduk yang tinggal di kawasan Amerika Selatan.

“Peran penting Amazon terhadap iklim global tidak bisa lagi kita pandang sepele,” kata Dan Nepstad, seorang peneliti senior yang memimpin penyusunan kajian bertajuk “The Amazon`s Vicious Cycles Drought and Fire in the Greenhouse”.

Laju penggundulan hutan di Amazon hingga tahun 2030, menurut kajian WWF, berpotensi melepaskan karbon hingga 55,5-96,9 juta ton karbondioksida (CO2). Angka ini sama dengan emisi gas rumah kaca global selama dua tahun.

Mengenai hasil penghijauan di TNGP yang sudah dilakukan lima kali sejak tahun 2004, Kunihiko Takahasi mengakui bahwa berdasarkan pengecekan langsung, hasilnya cukup bagus.

“Kami tidak sedikitpun merasa ada ketidakpuasan karena kegiatan di Taman Nasional ini (TNGP) semakin banyak melibatkan masyarakat, dan itu sesuai dengan apa yang kami harapkan,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa kegiatan serupa juga pernah diadakan di Taman Nasional Way Kambas, Taman Nasional Bali Barat dan juga untuk rehabilitasi orangutan.

“Tapi, khusus di Taman Nasional Gede Pangrango, kami bermaksud menyelenggarakan tiap tahun,” katanya menambahkan. (*)


Gol Ronaldo Bawa MU Kembali ke Puncak Klasemen

Februari 1, 2008

Cristiano Ronaldo menciptakan dua gol, salah satunya lewat tendangan bebas, ketika Manchester United menundukkan Portsmouth 2-0, Rabu, sehingga klub itu kembali naik ke urutan puncak klasemen sementara Liga Inggris.

Chelsea mempertahankan peluang mempertahankan gelar dengan kemenangan 1-0 atas Reading di Stamford Bridge lewat gol tunggal Michael Ballack, sedangkan kinerja Liverpool semakin buruk pada musim ini dengan kalahnya klub asuhan Rafael Benitez itu 1-0 dari West Ham United.

Setelah posisinya ditempati Arsenal 24 jam sebelumnya, United kembali menempati posisi teratas ketika bertandang ke Portsmouth di Old Trafford, setelah pemain dari Portugal itu mencetak gol sehingga golnya untuk musim ini menjadi 27.

Ketika pertandingan baru berlangsung 10 menit ia mengoper bola kepada Nani dan menerimanya kembali pada posisi terbuka dan melakukan tembakan menembus pertahanan David James.

Tiga menit kemudian ia membuat James mengeleng-gelengkan kepala setelah menyadari bola yang dilayangkan Ronaldo dari titik tendangan bebas menembus batas mistar yang dijaganya.

“Pertandingan amat mengagumkan,” kata pelatih Alex Ferguson kepada Sky, seperti dilaporkan Reuters. “Tidak ada penjaga gawang di dunia yang mampu menahan tembakan itu. Ini merupakan tembakan bebas yang baru pertama saya lihat dalam kompetisi Liga Inggris,” ungkap pelatih itu.

United mengantungi 57 poin, sama dengan nilai Arsenal yang mengalahkan Newcastle United 3-0, Selasa, namun United lebih baik selisih golnya. Chelsea mengantungi 53 poin.

“Kami berharap naik lagi ke urutan puncak dan hal itu berhasil dilakukan pemain,” kata Fergusson. (*)


Chris John Belum Berambisi Satukan Tiga Gelar

Februari 1, 2008

Semarang – Petinju juara dunia kelas bulu WBA kebanggaan Indonesia, Chris John, mengaku belum punya ambisi merebut tiga gelar sekaligus WBA, WBC, dan IBF melalui tarung unifikasi.

Chris John yang belum lama mengalahkan petinju Panama, Roinet Caballero, melalui TKO di ronde ketujuh itu, justru tengah berkonsentrasi untuk menghadapi pemenang dari pertemuan petinju Meksiko Juan Manuel Marquez dengan seorang petinju Korea.

“Pelatih sekaligus manajer saya, Craig Christian, belum ada rencana ke arah itu. Justru Craig berkeinginan mempertemukan saya dengan pemenang antara Juan Manuel Marquez (Meksiko) lawan petinju Korea,” kata Chris John ketika dihubungi di Semarang, Kamis.

Suami mantan atlet wushu Jateng Anna Maria Megawati tersebut mengatakan, Craig justru tertarik untuk mempertemukan dirinya dengan pemenang antara kedua petinju tersebut.

Menurut petinju yang sudah mempertahankan gelarnya untuk kedelapan kalinya itu, pertandingannya mendatang yang sudah direncanakan itu, merupakan pertandingan pilihan (choice) sehingga bebannya akan berbeda dibanding tarung wajib.

Salah satu dari dua calon lawan Chris John yakni Juan Manuel Marquez, sebelumnya pernah bertemu Chris John di Jakarta dan petinju kelahiran Kabupaten Banjarnegara, Jateng, tersebut berhasil mengalahkannya.

Seperti diketahui, Chrisj John berhasil menang TKO atas Roinet Caballero pada ronde ketujuh. Begitu usai ronde ketujuh, Roinet tidak mampu melanjutkan pertarungan lagi ke ronde kedelapan.

Sebenarnya pada ronde keenam, petinju yang memiliki julukan “The Dragon” tersebut berhasil menjatuhkan lawannya, tetapi ternyata Roinet tertolong bunyi bel sebagai tanda berakhirnya ronde keenam tersebut.

Chris John, dalam wawancara usai pertarungan tersebut, mengatakan bersyukur atas kemenangannya dan akan terus berupaya bertarung sekali lagi di luar (negeri) guna memperoleh gelar super champion seperti yang dijanjikan oleh presiden WBA, apabila bisa menang 10 kali berturut-turut.


Petani Sukabumi Keluhkan Cuaca yang Tak Menentu

Februari 1, 2008

Para petani di wilayah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mengeluhkan kondisi cuaca yang tidak menentu beberapa minggu terakhir karena dapat mempengaruhi hasil panen mereka.

“Perubahan iklim yang tidak menentu saat ini akan berdampak terhadap turunnya produktivitas para petani, sehingga hasil panennya juga mengalami penurunan,” kata Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Sukabumi, Maman Suparman, di Sukabumi, Kamis.

Kerusakan hutan di sekitar lokasi areal pertanian, jelasnya, menjadi faktor penyebab cuaca yang tak menentu tersebut.

“Saya minta kepada pemerintah agar pengrusakan hutan dapat dihilangkan, sehingga sistem pengairan bagi para petani tidak terganggu,” ujarnya.

Ia menyebutkan, secara umum perubahan cuaca karena efek pemanasan global, seperti yang terjadi saat ini dalam satu pekan bisa terjadi musim kemarau dan musim hujan secara bergantian.

“Jika kondisi tersebut terus terjadi, maka akan mengancam berkurangnya jumlah produksi padi. Dampak yang paling parah adalah terjadinya rawan pangan,” tuturnya.

Terkait menghilangnya pupuk di pasaran, Maman menjelaskan kini pendistribusian pupuk mulai masuk ke Sukabumi.

“Pupuk urea yang sempat hilang, saat ini sedikit demi sedikit mulai ada di pasaran,” katanya sambil berharap agar pasokan pupuk segera normal untuk memenuhi permintaan para petani yang serentak.


Kado Ulang Tahun Itu Berupa 20 Tahun Penjara

Februari 1, 2008

Jakarta – Bukannya kado istimewa, kue dan ciuman mesra dari keluarga dekat yang diterima Pollycarpus Budihari Priyanto pada ulang tahunnya yang ke-46 tahun ini melainkan berita bahwa ia divonis 20 tahun penjara.

Mestinya, pada hari ulang tahun yang jatuh 26 Januari 2008, mantan pilot di PT Garuda ini kedatangan orang-orang yang dicintai. Tapi yang datang justru tim eksekusi Kejaksaan Agung.

Detik-detik menjelang hari ulang tahunnya justru menjadi mimpi buruk bagi pria yang lahir di Solo, 26 Januari 1961 ini.

Sekitar pukul 22.00 WIB, 25 Januari 2008, tim eksekusi datang ke rumahnya di Kompleks Pamulang Permai Blok B Nomor 1, Tangerang, Banten.

Upaya Pollycarpus untuk didampingi penasehat hukum dalam peristiwa itu juga gagal sebab proses eksekusi berlangsung sangat cepat dan hanya beberapa jam setelah majelis hakim Mahkamah Agung mengambil keputusan untuk memenjarakannya selama 20 tahun.

Bahkan, salah satu pengacara yang direncanakan akan mendampingi eksekusi Pollcarpus malah masih berada di Surabaya.

Pengacara ini tidak bisa datang karena eksekusi yang berlangsung cepat bahkan keputusan vonis baru diumumkan ke publik sore harinya sekitar pukul 15.30 WIB.

Tanpa banyak kesulitan, Pollycarpus pun dibawa tim eksekusi dengan mobil B 2107 BQ ke LP Cipinang dengan kawalan empat mobil berisi para petugas sekitar pukul 22.30 WIB.

Isteri Pollycarpus, Yosepha Hera Iswandari (42) ikut mengantar suaminya untuk hidup di balik jeruji dengan naik mobil B 1353 MO. Satu mobil patroli polisi menjadi pemandu jalan bagi iring-iringan itu.

Tiba di LP Cipinang, Jakarta Timur sekitar pukul 23.35 WIB, mobil yang membawa Pollycarpus melesat masuk ke halaman sedangkan mobil yang mengiringinya masuk pelan-pelan sebagaimana layaknya kendaraan yang masuk ke kompleks gedung LP tersebut.

Akibatnya, sejumlah wartawan yang akan mengambil gambar kesulitan sebab mobil itu berdiri tepat di pintu masuk LP yang terbuat dari lempengan besi.

Ketika pintu itu terbuka, mobil itu dengan cepat masuk ke dalam LP dan pintu kembali ditutup.

Mobil tim eksekutor diparkir di halaman kemudian para petugasnya masuk ke LP Cipinang dengan berjalan kaki. Mobil polisi malah parkir di tepi jalan raya.

Sekitar pukul 00.00, tim eksekutor yang ke luar LP Cipinang menjadi sasaran pertanyaan sejumlah wartawan.

Sebelum menjawab pertanyaan wartawan, tim eksekutor memperkenalkan diri dengan santai. Sikap ini berbeda saat mereka membawa Polycarpus.

Tim eksekutor itu antara lain Jaksa Penuntut Umum Didik Farkhan, Pelaksana Harian Kasi Pidana Umum PN Jakarta Pusat Bambang Setyadi, Asisten Pidana Umum Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta Fitra Sani dan Direktur Eksekusi Kejaksaan Agung Kamal Sofyan.

“Kami sudah selesai. Pollycarpus sudah ada di dalam. Ia berada di ruang penampungan untuk asimilasi atau masa perkenalan. Ini sudah bisa dijalani oleh setiap napi yang baru masuk,” kata Sani.

Ia mengatakan, dengan begitu, proses pemenjaraan Pollycarpus di LP akan menjadi wewenang LP Cipinang.

Ia mengakui bahwa lancarnya proses eksekusi tidak terlepas dari sikap kooperatif Pollycarpus.

Kamal Sofyan menambahkan, begitu putusan MA keluar, tim intelijen Kejaksaan Agung langsung memonitor sekitar kediaman Pollycarpus agar jalannya eksekusi dalam lancar.

“Bahkan tim Jamintel telah dua hari berada di sekitar rumah Pollycarpus,” katanya.

Isteri Pollycarpus

Kesetiaan isteri Pollycarpus, Yosepha Hera Iswandari (42) kembali ditunjukkan untuk kali ini. Dengan wajah yang menampilkan perasaan sedih, ia mengantar suaminya untuk menjalani masa vonis penjara selama 20 tahun.

Saat Pollycarpus ditahan selama 18 bulan di Rutan Mabes Polri pun, Hera hampir tiap hari mengunjungi suami yang menikahinya pada 18 Januari 1986 itu.

Hera selalu membawakan baju bersih, membawa pulang baju kotor dan mengantar makanan buat suaminya baik ketika ditahan di Mabes Polri maupun LP Cipinang.

Dalam setiap persidangan yang melibatkan Pollycarpus, Hera hampir selalu mendampinginya dengan tegar.

Setiap pernyataan dari pihak lain dan pertanyaan wartawan yang menyudutkan suaminya dijawab dengan lantang dan tidak kalah lantangnya dengan isteri Munir, Suciwati yang sejak awal berjuang keras mencari keadilan.

Bahkan, usai mengantar suaminya di LP Cipinang, Sabtu dini hari sekitar pukul 00.20 WIB, Hera tetap melayani pertanyaan wartawan termasuk mendamprat wartawan yang memojokkan suaminya.

Dengan raut muka sedih dan mata berkaca-kaca ia memaki wartawan yang menanyakan soal perasaan dirinya.

“Apa pantas saudara menanyakan seperti itu, Anda bisa lihat sendiri,” katanya dengan lantang dengan mata melotot ke arah watawan yang bertanya.

Sikap yang sama ditunjukkan ketika ada wartawan yang menanyakan soal bekal yang dibawa Pollycarpus.

“Kalau tanya itu yang pandai dong. Situasi begini malah tanya soal bekal,” katanya dengan geram.

Konsultasi

Hera mengatakan bahwa dia akan secepatnya berkonsultasi dengan Tim Kuasa Hukum yang dipimpin M Assegaff untuk melakukan langkah berikutnya.

“Saya kan tidak tahu hukum, jadi saya akan tanya dulu kepada Pak Assegaff,” ujar Yosefa.

Ia menegaskan bahwa Pollycarpus dan dirinya akan tetap berpegang pada prosedur hukum yang berlaku dan tidak akan mundur dalam menghadapi kasus yang membelit Pollycarpus.

“Polly tidak membunuh Munir, apa ada bukti sisa arsen saat itu, semuanya hanya berdasarkan katanya-katanya saja dan tidak ada bukti sama sekali,” kata Yosefa.

Ia juga mempertanyakan tidak adanya otopsi ulang jenazah Munir dan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) sehingga kasus pembunuhan Munir dapat dilihat jelas.

Padahal, ia sejak awal meminta agar ada otopsi untuk mengetahui penyebab kematian.

Ia juga menyoroti komentar istri Munir, Suciwati, yang mengaku tidak puas dengan vonis 20 tahun penjara.

“Kepada Suciwati saya tegaskan Pollycarpus bukan alat pemuas,” tegasnya.

Pernyataan itu adalah ucapan terakhir sebelum ia masuk ke mobil untuk meninggalkan LP Cipinang.

Ia juga sempat melambaikan tangan kepada wartawan dari balik kaca mobilnya sambil mengucapkan “terima kasih”. (*)