Sukabumi, Langkanya minyak tanah di Sukabumi yang disebabkan kurangnya pasokan dari Pertamina membuat sebagian warga Kota dan Kabupaten Sukabumi menggunakan kayu bakar untuk memasak.
Informasi yang diperoleh, Senin (7/1), menyebutkan, harga minyak tanah per liternya dulu hanya Rp 2.500 kini menjadi Rp3.000/liter. Kelangkaan minyak tanah tersebut diantisipasi sebagian warga dengan mengganti kayu sebagai bahan bakar untuk memasak.
“Permintaan minyak tanah saat ini dibatasi sehingga warga mencari alternatif lain,” kata salah seorang warga di Kampung Liung Tutut Kelurahan Cisarua, Kecamatan Cikole Kota Sukabumi, Yanti Resmiyanti (41).
Menurut dia, ditempat tinggalnya sudah ada 15 orang warga yang beralih menggunakan kayu bakar sebagai bahan bakar sehari-hari.
“Selama dua minggu kami menunggu pasokan minyak tanah dan hari Minggu (6/1) lalu diberikan jatah hanya sebesar lima liter tidak boleh lebih. Padahal, untuk mendapatkan pasokan minyak tanah lagi kemungkinan harus menunggu satu pekan mendatang,” keluhnya.
“Kalau mengandalkan minyak tanah, warga akan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” tambahnya.
Disebutkannya, harga minyak tanah saat ini pun naik dari Rp2.500/liter menjadi Rp2.900 hingga Rp3.000/liter, sehingga sangat memberatkan warga yang tak mampu yang masih ketergantungan dengan minyak tanah.
Sementara itu, salah seorang warga di Kampung Babakan Bandung, Kelurahan Subangjaya Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi, Engkar (51) menyatakan sudah sepekan ini sulit membeli minyak tanah dan harganya pun mahal.
“Biasanya seminggu bisa membeli lima liter minyak tanah, sekarang ini hanya ada tiga liter. Harganya pun naik dari R2.500/liter menjadi Rp3.000/liter,” katanya.
Ia mengaku terpaksa mengganti bahan bakar minyak tanah dengan kayu bakar guna menutupi kekurangan minyak tanah untuk kebutuhan sehari-hari, namun untuk mendapatkan kayu bakar pun sulit karena kondisi musim hujan menyebabkan kayu yang bagus untuk menjadi bahan bakar menjadi basah.
Sebelumnya, Ketua Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) Sukabumi-Cianjur, Andri Hamami membantah, adanya kelangkaan minyak tanah di Kota/Kabupaten Sukabumi karena kelangkaan yang terjadi hanya pada hari libur natal dan tahun baru lalu.
“Minyak tanah masih beredar dan tidak terjadi kelangkaan seperti yang digembor-gemborkan. Isu kelangkaan beredar di masyarakat karena terpengaruh pemberitaan di media massa,” katanya di Sukabumi, Kamis.
Dikatakannya, pada hari-hari terakhir ini jumlah permintaan meningkat dibandingkan kondisi normal dan masyarakat terkena isu akan terjadi kenaikan sehingga membeli minyak tanah di luar biasanya.
Menurut dia, pasokan minyak tanah berjalan normal dan tidak terjadi keterlambatan, tetapi bila ada keterlambatan beberapa waktu lalu dipengaruhi libur natal dan tahun baru.
“Jika terjadi kelangkaan, kami siap melakukan operasi pasar. Namun, saya yakin pasokan minyak tanah tetap lancar di tengah meningkatnya jumlah permintaan,” tegasnya.
Andri juga menepis anggapan terjadinya kelangkaan karena adanya penimbunan minyak tanah, pasalnya sistem pengawasan yang dilakukan pemerintah dan pihak lainnya cukup ketat.
“Bila saat ini kurang ketat, maka akan ditingkatkan pengawasannya,” ujarnya seraya menambahkan warga Kabupaten/Kota Sukabumi sekitar 90 persen masih menggunakan minyak tanah dan belum terbiasa dengan bahan bakar lainnya.
Ditulis oleh selarasfm 
Ditulis oleh selarasfm
Ditulis oleh selarasfm 
